Beginilah mereka menghancurkan kita, lalu bagaimana sikap kita…?!

Beginilah mereka menghancurkan kita, lalu bagaimana sikap kita…?!.

 

Arrahmah.com/Muslimahzone.com – Ibu Guru berkerudung rapi tampak bersemangat di depan kelas sedang mendidik murid-muridnya dalam pendidikan Syari’at Islam. Di tangan kirinya ada kapur, di tangan kanannya ada penghapus. Ibu Guru berkata, “Saya punya permainan. Caranya begini, di tangan kiri saya ada kapur, di tangan kanan ada penghapus.

Jika saya angkat kapur ini, maka berserulah “Kapur!”, jika saya angkat penghapus ini, maka berserulah “Penghapus!” Murid muridnya pun mengerti dan mengikuti. Ibu Guru mengangkat silih berganti antara tangan kanan dan tangan kirinya, kian lama kian cepat.

Beberapa saat kemudian sang guru kembali berkata, “Baik sekarang perhatikan. Jika saya angkat kapur, maka berserulah “Penghapus!”, jika saya angkat penghapus, maka katakanlah “Kapur!”. Dan permainan diulang kembali.

Maka pada mulanya murid-murid itu keliru dan kikuk, dan sangat sukar untuk mengubahnya. Namun lambat laun, mereka sudah biasa dan tidak lagi kikuk. Selang beberapa saat, permainan berhenti. Sang guru tersenyum kepada murid-muridnya.

“Anak-anak, begitulah ummat Islam. Awalnya kalian jelas dapat membedakan yang haq itu haq, yang bathil itu bathil. Namun kemudian, musuh musuh ummat Islam berupaya melalui berbagai cara, untuk menukarkan yang haq itu menjadi bathil, dan sebaliknya.

Pertama-tama mungkin akan sukar bagi kalian menerima hal tersebut, tetapi karena terus disosialisasikan dengan cara-cara menarik oleh mereka, akhirnya lambat laun kalian terbiasa dengan hal itu. Dan kalian mulai dapat mengikutinya. Musuh-musuh kalian tidak pernah berhenti membalik dan menukar nilai dan etika.”

“Keluar berduaan, berkasih-kasihan tidak lagi sesuatu yang pelik, zina tidak lagi jadi persoalan, pakaian seksi menjadi hal yang lumrah, sex sebelum nikah menjadi suatu hiburan dan trend, materialistik kini menjadi suatu gaya hidup, korupsi menjadi kebanggaan dan lain lain. Semuanya sudah terbalik. Dan tanpa disedari, kalian sedikit demi sedikit menerimanya. Paham?” tanya Guru kepada murid-muridnya. “Paham Bu Guru”

“Baik permainan kedua,” Ibu Guru melanjutkan. “Bu Guru ada Qur’an, Bu Guru akan meletakkannya di tengah karpet. Quran itu “dijaga” sekelilingnya oleh ummat yang dimisalkan karpet. Sekarang anak-anak berdiri di luar karpet.

Permainannya adalah, bagaimana caranya mengambil Qur’an yang ada di tengah dan ditukar dengan buku lain, tanpa memijak karpet?” Murid-muridnya berpikir. Ada yang mencoba alternatif dengan tongkat, dan lain-lain, tetapi tak ada yang berhasil.

Akhirnya Sang Guru memberikan jalan keluar, digulungnya karpet, dan ia ambil Qur’an ditukarnya dengan buku filsafat materialisme. Ia memenuhi syarat, tidak memijak karpet.

“Murid-murid, begitulah ummat Islam dan musuh-musuhnya. Musuh-musuh Islam tidak akan memijak-mijak kalian dengan terang-terangan. Karena tentu kalian akan menolaknya mentah-mentah. Orang biasapun tak akan rela kalau Islam dihina dihadapan mereka. Tetapi mereka akan menggulung kalian perlahan-lahan dari pinggir, sehingga kalian tidak sadar. Jika seseorang ingin membuat rumah yang kuat, maka dibina pundasi yang kuat. Begitulah ummat Islam, jika ingin kuat, maka bangunlah aqidah yang kuat. Sebaliknya, jika ingin membongkar rumah, tentu susah kalau fondasinya dahulu. Lebih mudah hiasan-hiasan dinding akan dikeluarkan dahulu, kursi dipindahkan dahulu, lemari dikeluarkan dahulu satu persatu, baru rumah dihancurkan…”

“Begitulah musuh-musuh Islam menghancurkan kalian. Mereka tidak akan menghantam terang-terangan, tetapi ia akan perlahan-lahan meletihkan kalian. Mulai dari perangai, cara hidup, pakaian dan lain-lain, sehingga meskipun kalian itu Muslim, tetapi kalian telah meninggalkan Syari’at Islam sedikit demi sedikit. Dan itulah yang mereka inginkan.”

“Kenapa mereka tidak berani terang-terangan menginjak-injak Bu Guru?” tanya mereka. Sesungguhnya dahulu mereka terang-terang menyerang, misalnya Perang Salib, Perang Tartar, dan lain-lain. Tetapi sekarang tidak lagi. Begitulah ummat Islam. Kalau diserang perlahan-lahan, mereka tidak akan sadar, akhirnya hancur. Tetapi kalau diserang serentak terang-terangan, baru mereka akan sadar, lalu mereka bangkit serentak. Selesailah pelajaran kita kali ini, dan mari kita berdo’a dahulu sebelum pulang…”

Matahari bersinar terik tatkala anak-anak itu keluar meninggalkan tempat belajar mereka dengan pikiran masing-masing di kepalanya.

***

Ini semua adalah fenomena Ghazwu lFikri (perang pemikiran). Dan inilah yang dijalankan oleh musuh-musuh Islam. Allah berfirman dalam surat At Taubah yang artinya:

“Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, sedang Allah tidak mau selain menyempurnakan cahayaNya, sekalipun orang-orang kafir itu benci akan hal itu.”(QS. At Taubah :32).

Musuh-musuh Islam berupaya dengan kata-kata yang membius ummat Islam untuk merusak aqidah ummat umumnya, khususnya generasi muda Muslim. Kata-kata membius itu disuntikkan sedikit demi sedikit melalui mas media, grafika dan elektronika, tulisan-tulisan dan talk show, hingga tak terasa.

Begitulah sikap musuh-musuh Islam. Lalu, bagaimana sikap kita…?

-Note From Brother Asep Juju-

(anna/muslimazone.com)

– See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/07/15/21646-beginilah-mereka-menghancurkan-kita-lalu-bagaimana-sikap-kita.html#sthash.XrNADO1U.dpuf

90 Tahun Nelson Mandela Tetap Berbatik

Gambar

Siapa tak kenal Nelson Mandela, seorang pejuang hak azasi manusia dari Afrika Selatan yang juga tokoh anti apartheid paling terkenal di dunia. Menjadi presiden Afrika Selatan setelah 27 tahun dipenjara oleh rezim apartheid, tidak menjadikannya tamak untuk terus berkuasa, baginya menjabat presiden cukup satu periode saja.

Gambar

Begitulah Nelson Rolihlahla Mandela, seorang tokoh dunia yang sikapnya sangat bijak dan bersahaja. Pada tanggal 18 Juli 2008 ia genap berumur 90 tahun. Sebuah bonus umur luar biasa dari Yang Maha Kuasa. Usia senja tak membuatnya berhenti beraktivitas. Mandela masih banyak melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat untuk dunia, khususnya untuk Afrika.

Gambar
Dari sekian banyak aktivitasnya, yang menarik dari mantan Presiden Afsel ini adalah kegemarannya memakai baju batik dalam setiap kesempatan baik itu acara resmi maupun tidak resmi, atau ketika bertemu dengan para pemimpin dunia maupun ketika merayakan ultahnya ke-90 bersama anak-cucu.
Gambar
Sungguh sebuah ironi yang tampak nyata. Batik yang resmi menjadi kain nasional Indonesia malahan lebih banyak diperkenalkan ke seluruh dunia bukan oleh pemimpin negara asal batik tersebut. Baru-baru ini saja menjadi tren karena ketakutan kita atas ulah negara jiran yang akan mengajukan klaim atas batik. Baru-baru ini juga karena paranoid tersebut para pemimpin kita jadi rajin memakai batik di berbagai kesempatan acara resmi.
Gambar
Nelson Mandela telah mengenakan batik sejak dahulu. Ketika pak harto masih segar bugar memimpin negeri ini. Ketika kita belum disadarkan oleh kelakuan “tetangga” yang sering mengakui budaya kita jadi bagian daya tarik wisatanya. Karena kebiasaannya itu, bahkan patung lilinnya pun dipakaikan baju batik!
Gambar
Hingga kini pun entah mengapa, Yang Mulia Presiden Republik Indonesia masih saja bangga mengenakan setelan jas-dasi ala barat dalam berbagai acara resminya. Mudah-mudahan warga dunia tetap tahu bahwa batik itu asalnya dari Indonesia, bukan dari Afrika Selatan. Happy Birthday Grandpa Nelson!

* Tulisan ini dibuat karena ternyata tanggal ulang tahun eyang Nelson sama dengan ultah almarhum ayah (18 Juli) yang berpulang tepat 40 hari menjelang usianya yang ke 65 tahun [b\w].

(Tulisan di atas dibuat & diposting pada 19 Juli 2008 di benwal.multiply.com. Ketika diposting ulang, usia Nelson Mandela 95 tahun dan sedang dalam keadaan sakit)

Soedjatmiko Darmoadmodjo (alm)

SDAdiPLN

Brigjen Pol. (purn) Drs. H. SOEDJATMIKO DARMOADMODJO
Lahir di Yogyakarta pada tanggal 18 Juli 1937, anak ke 3 (tiga) dari 5 (lima) bersaudara dan merupakan anak laki-laki satu-satunya dari pasangan bapak Djasmin Darmoadmodjo dan ibu Sujatmi Djasmin.  Ayah beliau adalah seorang pegawai di Djawatan Pegadaian, yang tugasnya selalu berpindah-pindah daerah meski pun masih di Jawa Tengah, itulah yang menyebabkan beliau lahir di Yogya, namun besar di kota Juwana, sebuah kota di pantai utara Jawa yang saat ini masuk ke dalam Kabupaten Pati.

Pak Jatmiko, begitu beliau biasa dipanggil, menikah dengan ibu Hawindati atau yang kini biasa dipanggil ibu Wien Soedjatmiko pada 19 April 1966. Hasil pernikahan dengan putri ke-2 bapak Siswodarsono itu beliau memiliki 2 (dua) anak yang kesemuanya laki-laki bernama Optolino Baskara dan Bene Waluyo yang kini memberi beliau 5 (lima) orang cucu. Namun sayangnya, almarhum Soedjatmiko hanya sempat menikmati menimang dua cucu laki-laki dari anak sulungnya, sementara tiga cucu berikutnya lahir di masa beliau telah berpulang.

Daftar Riwayat Hidup Alm. H. Soedjatmiko Darmoadmodjo (1937 – 2002)

PENDIDIKAN UMUM:

  • 1950           SD
  • 1953           SMP
  • 1956           SMA “B” Semarang
  • 1983           P4 BP7 Pusat, Jakarta
  • 1993           Pengembangan Manajemen Usaha, Jakarta
  • 1999           Pascasarjana (S.2) M.Sc – AWU, Jakarta
  • 2000           Pascasarjana (S.2) M.M. – STIE IPWI, Jakarta

PENDIDIKAN MILITER/ POLISI:

  • 1961           PRA PTIK/ SPN Sukabumi
  • 1963           Kawiryan-1/ BRIMOB-PPBM, Porong
  • 1965           PTIK/ Bakaloreat/ SmIK, Jakarta
  • 1967           Kawiryan-2/ MENPOR, Kelapa Dua, Bogor
  • 1970           PTIK-Doktoral, Jakarta
  • 1976           Sespimpol, Lembang
  • 1979           Sesko (Gab) ABRI, Bandung
  • 1980           Susgaryawan ABRI, Bandung
  • 1984           Lemhanas (KRA XVII), Jakarta
  • 1986           Tarpadnas, Hankam, Jakarta
  • 1987           Suscados Kewiraan Hankam, Jakarta
  • 1988           Tarwaskat Hankam, Jakarta
  • 1989           Tarwakapolda, Jakarta
  • 1991           Tarkomputer Polri, Jakarta

RIWAYAT KEPANGKATAN:

  • 01/02/1963              Letnan Dua Polisi
  • 01/02/1965              Letnan Satu Polisi
  • 1965                         AKP Lokal
  • 01/02/1968              Kapten Polisi
  • 1970                         Mayor Polisi
  • 01/02/1971              Mayor Polisi
  • 01/10/1976              Letnan Kolonel Polisi
  • 01/04/1981              Kolonel Polisi
  • 01/04/1991              Brigadir Jenderal Polisi
  • 01/08/1992              Purnawirawan

RIWAYAT JABATAN:

  • 14/05/1965              Kabag Ops Komres 1851, Bone, Sulawesi Selatan
  • 29/11/1965              Dan Res 1842 (1965-1967) Pinrang, Sulawesi Selatan
  • 1967-1970                Tugas belajar di PTIK, Jakarta
  • 10/06/1969              Kabag Minpers KP3 Tanjung Priok, Jakarta
  • 09/09/1970              Ka Sat Gas “A” Sub TPK Kaltim, Balikpapan
  • 01/10/1970              Kaset Komdak XIV Kaltim, Balikpapan
  • 01/11/1970               Sekretaris Koord Univ. Mulawarman, Balikpapan
  • 05/11/1970              Kasi Hukum Komdak XIV Kaltim, Balikpapan
  • 02/08/1971              Perwira Litbang Komdak XIV Kaltim, Balikpapan
  • 13/02/1973              Wakil Sekpri Kapolri, Mabak (Mabes Polri), Jakarta
  • 01/08/1979              Kabag Poldagri Babinkar ABRI, Jakarta
  • 01/01/1980              Lektor Muda di PTIK, Jakarta
  • 01/08/1982              Lektor di PTIK, Jakarta
  • 01/04/1983              Aspam Babinkar ABRI, Mabes ABRI, Jakarta
  • 02/06/1984              Staf Ahli Kapolri, Mabes Polri, Jakarta
  • 13/05/1985               Kasetum Polri, Mabes Polri, Jakarta
  • 04/01/1986              Lektor Kepala di PTIK, Jakarta
  • 01/02/1989              Waka Polda Sulutteng, Manado
  • 30/08/1989              Kapolda Sulutteng, Manado
  • 01/01/1991               Kapolda Sulselra, Ujung Pandang/Makassar
  • 01/04/1993              Komut PT Rimasa Brata Bhakti, Jakarta
  • 22/07/1993              Direktur Utama PT Brata Jaya Utama, Jakarta
  • 06/06/1995              Anggota Presidium Asperdia Hankam (1995-2000)
  • 01/06/1996              Wakil Ketua 1 Asperdia Hankam Unit Polri
  • 28/12/1998              Direktur PT Aran Juana Putra, Jakarta
  • 27/09/1999              Pjs Ketua Asperdia Hankam Unit Polri, Jakarta
  • 02/05/2000             Wakil Ketua Asperdia Hankam Unit Polri, Jakarta
  • 21/06/2000              Anggota Presidium Asperdia Hankam (2000-2005)

PENGHARGAAN/ TANDA JASA:

  • 26/06/1967              Satya Lencana Satya Dharma Trikora
  • 02/10/1967              Satya Lencana GOM IV
  • 11/06/1968              Satya Lencana Penegak
  • 01/07/1968              Satya Lencana Prasetya Pancawarsa
  • 17/09/1968              Satya Lencana Wira Dharma Dwikora
  • 30/09/1971              Satya Lencana karya Bhakti
  • 30/10/1972              Penghargaan dari Univ. Mulawarman (Jur. Sosiatri Fak. Sosopol)
  • 30/11/1972              Satya Lencana Jana Utama
  • Sept 1977                  Bintang Police Klas II Taiwan
  • 09/05/1978              Satya Lencana Kesetiaan 16 Tahun
  • 05/10/1985              Satya Lencana Kesetiaan 24 Tahun
  • 19/08/1986              Bintang Bhayangkara Nararya
  • 27/10/1986              Satya Lencana Dwidya Sistha
  • 10/11/1990               Medali Perjoangan Angkatan ‘45
  • 26/09/1994              Bintang Yudha Dharma Nararya
  • 23/08/1996              International Best Executive Award 96-97
  • 01/09/2000              Eksekutif Indonesia Berprestasi 2000 YNI

R I Z Q A

Seorang yang dikenal sebagai penulis (writer) itu, menurut saya, justru akan kesulitan untuk memberi nama bagi apa pun yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Tentunya tidak semua penulis begitu, tapi paling tidak ini terjadi pada diri saya, yang pernah berprofesi sebagai penulis naskah iklan (copywriter) selama lebih dari satu dasawarsa, meski hingga kini saya merasa belum pantas dibilang sebagai seorang penulis.

Contohnya ketika memberi nama perusahaan atau nama anak yang baru lahir, seorang penulis tentunya akan sangat hati-hati dalam memilih namanya. Ketika dapat nama yang bagus tapi sudah banyak dipakai orang alias pasaran, orang-orang akan bilang “Gimana sih penulis kok nggak kreatif, ngasih namanya pasaran…” hehe… Tapi ketika memberi nama yang unik, aneh atau nyeleneh, maka mereka akan bilang “Dasar penulis, ngasih nama kok begitu!”.

Pengalaman ‘memberi nama’ yang baru saja saya alami adalah ketika menyambut kelahiran anak kedua. Meskipun sebelumnya sudah pernah mengalami “ritual” pemberian nama untuk putra pertama, tetapi tetap saja untuk yang kedua ini terasa lebih “galau” dibanding sebelumnya. Apalagi ketika mengetahui amanah Allah (meminjam istilahnya mas Eko Eshape) kali ini adalah seorang putri. Entah kenapa saya merasa lebih sulit mencari nama untuk perempuan ketimbang laki-laki, mungkin karena saya laki-laki? Mungkin…

Alkisah… tibalah jua hari yang dinanti, yaitu pada tanggal 7 Maret 2013 lahir bayi perempuan mungil yang alhamdulillah sehat dan lengkap. Melalui operasi cesar yang sukses dilaksanakan oleh tim dr. Patut Ritongga di RS Hermina Bekasi Barat, siang itu tercatat sang putri memiliki berat lahir 3,2 kg dengan panjang 48 cm.

Mulailah sang ayah dari bayi cantik tersebut mengalami kegalauan dalam memberinya nama. Meski sang ibu sudah jauh-jauh hari menyebut nama Aisyah yang merupakan pendamping termuda Baginda Nabi. Namun saya merasa harus ada nama lain untuk melengkapinya. Semakin menemukan banyak nama semakin bingung memilihnya, hingga akhirnya terbersit nama Rizqa agar tidak jauh berbeda dengan nama panggilan kakaknya: Rizqu. Pasrah lah mau dibilang nggak kreatif atau males mencari, yang jelas nama itu ternyata disepakati juga oleh sang ibu. Jadilah anak kedua kami dipanggil Rizqa.

Gambar

Benanda Aisyarizqa Waluyo

BENANDA

terdiri dari Bene + Anggi + ananda – artinya “ananda/anak dari Bene & Anggi

AISYARIZQA

“Aisya” diambil dari nama istri Rasulallah (Aisyah binti Abu Bakar) yg sangat berperan besar dalam sejarah kerasulan beliau dan dikenal sebagai “ibu dari orang-orang mukmin”, jadi boleh dibilang Aisya/Aisyah adalah salah satu perempuan istimewa di dunia ini karena pernah mendampingi Rasulullah SAW. Kata ‘aisyah/aisya’ sendiri secara etimologi bahasa Arab memiliki arti ‘hidup dan sehat’.

“Rizqa” yang juga secara etimologi Arab berarti ‘anugrah’ atau kata lainnya adalah ‘rezeki’, juga merupakan kependekan dari kata ‘rizqullah’ yang artinya ‘rezeki dari Allah’.

Jadi secara keseluruhan, “Aisyarizqa” memiliki makna “perempuan istimewa yang hidup dan sehat yang merupakan rezeki dari Allah”.

WALUYO

Kata ini memang diambil dari nama ayahandanya Bene Waluyo. Namun lebih dari itu, kata ‘waluyo’ sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti ‘keselamatan’. Ini merupakan doa orang tua, tentunya juga kakek-neneknya serta kita semua, agar Benanda Aisyarizqa selalu diberi keselamatan, agar selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin.

“Rezeki dari Allah SWT bagi Bene & Anggi yaitu anak perempuan istimewa yang diberi kehidupan sehat dan selalu dalam lindungan & keselamatan dari-Nya”

R I Z Q U

Blog pertama saya sebenarnya bukanlah WordPress juga bukan pula Blogspot. Pertama kali saya bikin blog di situs multiply.com, yang sayangnya mulai 2013 ini situs tersebut sudah tidak lagi menyediakan fasilitas blogging, kini mereka hanya menyediakan tempat untuk berjualan online dan berganti nama domain jadi multiply.co.id. Bersamaan dengan berubahnya konsep online multiply, berarti hilang pula segala sesuatu yang kita unggah ke situs multiply yang lama. Untungnya beberapa postingan sudah sempat saya salin, termasuk postingan foto-foto tentang acara aqiqah anak saya yang pertama yang bernama ARYADARMA RIZQULLAH SOEDJATMIKO yang dipanggil RIZQU.

Rizqu yang terpaksa lahir melalui operasi caesar ini kelahirannya paling gampang diingat oleh saya pribadi yang sangat pelupa. Penandanya gampang saja, saya ingat sekali ketika momen menguburkan ari-ari yang sudah dimasukkan ke dalam kendil (semacam tempat kecil dari tanah liat) di halaman depan rumah pada sekitar jam 7 malam, terdengar suara takbir di mana-mana, pertanda bahwa besok adalah hari raya, dan saat itu adalah tepat bulan Dzulhijjah atau bulan haji, sehingga berarti esok hari adalah Hari Raya Haji/Qurban. Itu artinya secara penanggalan Hijriyah adalah tepat tanggal 9 Dzulhijjah 1430 H (26 November 2009) karena besoknya adalah Hari Raya Qurban 10 Dzulhijjah.

Tulisan ini selain sebagai pengganti postingan di blog sebelumnya (benwal.multiply.com) yang sudah raib, juga agar nama sang anak bisa tersimpan di jagat maya sehingga dapat memudahkan anak cucu cicit yang hendak mencari asal-usul dirinya, hehe… Karena nama adalah doa bagi penyandang nama tersebut, maka orang tua seharusnya tidak boleh sembarangan memberi nama anaknya. Lalu bagaimana dengan nama Rizqu, darimana asalnya? Berikut penjelasan singkatnya:

aqiqh-28

Aryadarma Rizqullah Soedjatmiko

ARYADARMA = seorang ksatria yang memiliki kebajikan (darma). Berawal dari ibunya Rizqu yang menyukai nama ‘Arya’ untuk diberikan kepada putranya, sedangkan kata ‘Darma’ dipilih juga karena mewakili nama nenek moyangnya: Darmoadmodjo. Jika disatukan akan bermakna tentang seorang Aryadarma yang merupakan ksatria pembela kebenaran, keadilan, dan kebajikan, yang selalu berbuat baik bagi kepentingan umat manusia. Nama ini mewakili latar belakang kebangsaannya, Indonesia (Jawa – Sunda)

RIZQULLAH = berasal dari bahasa Arab yang artinya ‘rezeki dari Allah’ karena memang keberadaan seorang Rizqu merupakan rezeki yang luar biasa bahkan setengah mukzizat dari Yang Maha Kuasa. Nama ini juga merupakan perwujudan dari rasa syukur kepada Sang Pemberi Hidup, dan agar Rizqu selalu ingat untuk setiap saat bersyukur kepada Allah SWT. Nama ini juga mewakili latar belakang agamanya, Islam.

SOEDJATMIKO = nama kakeknya yang menjadi nama keluarga dari ayahnya Rizqu sehingga otomatis akan melekat pada dirinya, selain sang ayah juga  ingin sekali memberi penghargaan dan kenangan akan ayahnya (kakeknya Rizqu). Selain mewakili latar belakang keluarga, nama ini konon dari bahasa Jawa kuno yang berarti ‘bagus’ atau ‘cakap’.

Secara keseluruhan ARYADARMA RIZQULLAH SOEDJATMIKO berarti: seorang ksatria cakap yang berjuang untuk kebajikan yang merupakan rezeki dari Allah SWT. Amiin.

Kutipan tentang akhir hidup

Setiap mendengar ada berita tentang orang meninggal, kita dalam hati selalu berkata, “Kasihan ya.” Lalu masalahnya adalah, siapa yang perlu dikasihani? Orang yang meninggal kah? Atau keluarga dari yang meninggal? Jelas yang terlihat adalah keluarga yang ditinggal, apalagi jika yang meninggal adalah satu-satunya pencari nafkah keluarga. Bagaimana dengan yang meninggal? Kita tidak pernah tahu apa yang “mereka” rasakan hingga kita sendiri mengalaminya nanti.

Sesungguhnya yang paling beruntung dari manusia yang hidupnya telah berakhir ialah manusia yang ketika dia meninggal dalam keadaan sakit yang sudah diketahui, dan ditunggui oleh keluarganya.

Bagaimana bisa begitu? Ya, karena mungkin ada 1001 cara meninggal yang tidak lebih baik dari itu. Makanya jika melihat ada orang yang mengasihani orang yang meninggal karena sakit, justru sebaliknya seharusnya merasa bersyukur karena bukan meninggal karena, maaf… amit-amit, misalnya karena dibunuh, atau mungkin kecelakaan parah, atau hilang ditengah laut? Bagi yang ditinggal tentunya juga akan lebih beruntung daripada jika keluarganya meninggalkan mereka secara tragis, tentunya akan lebih menyiksa batin.

Karena kita semua ini camat, alias calon mati, sudah sewajarnya jika terlintas di pikiran kita hal-hal “horor” seperti ini. Paling tidak kondisi tersebut dapat memacu kita untuk selalu berbuat baik, melakukan amal ibadah dengan lebih banyak dan sering, agar nanti ketika waktunya tiba, kita menjadi bagian dari manusia beruntung seperti kalimat kutipan di atas. Aamiin.