Ketika Berlalu

Suara bedug
Tak lagi jadi sejuk
Padahal sebelumnya
Terasa istimewa

Suara azan
Tak lagi diharapkan
Padahal sebelumnya
Seperti dipuja-puja

Suara khotbah
Tak lagi dianggap ramah
Padahal sebelumnya
Bagai berita utama

Itulah tanda-tanda
Selesainya bulan suci
Tinggal berharap jaya
Hingga setahun lagi

Minuman Setengah Sadar

 

Hebat, hebat ya orang-orang itu…

Membuat zat yang dapat memicu…

Memicu ketidaksadaran

Alias mabuk-mabukan

 

Akibat setengah sadar jadinya gawat

Tak mampu kendalikan syahwat

Diatur pikiran jahat

Bikin diri sendiri atau orang lain tamat

 

Akibat setengah sadar jadinya gawat

Hati tak terawat

Bergulat dengan kesalahan

Rumah tangga dianggap mainan

 

Akibat setengah sadar jadinya gawat

Manusia jadi keparat

Berkarat

Semoga kualat

 

 

Bojong Rawalumbu, 8 Juni 2016

 

Ada Ular di Kemang

24 Januari 2007

Awalnya gw nggak habis pikir sama orang-orang yg seneng melihara ular, kok bisa-bisanya ya mereka tertarik bahkan ada yg jatuh cinta sama hewan melata itu? Sampai suatu saat di deket kantor ada sebuah pameran kura-kura. Sebagai kaum pecinta binatang dan juga pemelihara kura-kura, gw akhirnya menyempatkan diri untuk melihatnya.

ular di kemang jakartaDari mulai sekedar melihat, mengagumi bentuknya, juga mengagumi harga si kura-kura darat yg ternyata lumayan mahal, termurah berbandrol Rp 650 ribu (padahal gw beli kura2 air yg di rumah Rp 35 ribu dapet 2 ekor)!! Sampailah sang empunya kura-kura menawarkan jenis reptil yg lain untuk sekedar dipegang. Reptil itu adalah… ular!

Istri gw yg biasanya pemberani itu ternyata langsung menolak mentah-mentah tawaran tersebut. Tapi sebaliknya gw justru tertarik. Mulailah pengalaman pertama menggendong ular. Gw menerima ular yg sedang melingkar tersebut dengan agak ragu-ragu. “Galak nggak, mas?” spontan pertanyaan itu terlontar ketika ular python asal Afrika itu mulai bergerak-gerak di kedua tangan gw. “Asal jangan ada gerakan yang ‘ngagetin’ aja!” saran si bapak pemilik ular.

Detik-detik berikutnya tangan gw mulai terbiasa dengan gesekan badannya. Sepertinya ular sepanjang kira-kira 50 cm tersebut juga punya perasaan yg sama, mulai terbiasa dengan kulit gw sehingga ia mulai berani menjalar-jalar hingga ke siku.

Tapi gw masih penasaran, bagaimana rasanya jika ia melilit di tangan. Akhirnya tangan kanan pelan-pelan gw coba jauhkan dari tubuhnya, harapannya agar dia otomatis melilitkan tubuhnya di tangan kiri. Ternyata benar! Ular dengan corak kuning coklat hitam tersebut mulai pelan-pelan melilit dan melingkari tangan kiri gw.

Di balik gemulai badannya yang terkesan lembut itu, ternyata ia memiliki kekuatan yang luar biasa. Rasanya seperti ada semacam bahan elastis solid yang mencengkram kuat tangan gw ini. Tulang-tulang rotorik yang hebat di dalam kulit indahnya sungguh terasa. Sejak itulah gw baru mulai mengerti, mungkin momen seperti inilah yg membuat orang jadi ‘jatuh hati’ dengan sang reptil eksotis itu.

Sayangnya, untuk mendapatkan ular cantik itu perlu merogoh kocek hingga 3,5 juta rupiah. Merawatnya pun perlu ada aturan-aturan khusus. Contohnya seperti python Afrika yang tak bisa besar tersebut perlu diberi makan minimal sekaligus 5 tikus kecil selama kira-kira 10 hari sekali. Setelah makan, sekitar 4 hari tidak boleh dipegang-pegang dulu karena nanti bisa muntah. Hal ini mungkin dikarenakan sistem pencernaannya yg ga sehebat manusia, habis makan bisa langsung lari-lari, hehehe… dan yang penting lagi jika kita tidak sempet ngurusin, kira2 siapa ya yg berani membersihkan kandangnya? Nggak semua orang bisa kita mintakan tolong untuk mengurusinya, karena nggak semua orang tau jika ular itu sesungguhnya tidak akan menyerang manusia jika dia tidak merasa diserang. [b\w]

Berusaha dan Berdoa

Dalam hidup ini, tidak semua yang kita inginkan atau rencanakan bisa terwujud, bahkan untuk keinginan yang seharusnya sangat mudah tercapai.

Itulah pentingnya berusaha sambil berdoa. Karena dalam setiap langkah kehidupan manusia, Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa memiliki peran mutlak dalam menentukan arahnya.

Manusia berencana, keluarga membantu biaya, teman-teman membuka jalan, tapi tetap Tuhan yang menentukan.

Dicari, Perancang Senyuman!

Kebetulan di dekat tempat tinggal saya baru buka sebuah klinik dokter gigi yang menamakan dirinya “Smile Designer Dental Clinic”. Sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena sekarang ini banyak klinik gigi atau pun praktik dokter yang di-branding seperti itu agar tidak “menyeramkan”. Saya juga belum pernah masuk ke dalamnya, karena memang belum punya masalah gigi, jika pun ada, saya sudah punya langganan dokter gigi, makin kecil kemungkinan saya berkunjung ke klinik tersebut.

Nama yang dipilih pun ketika itu masih saya anggap biasa, karena memang urusan gigi sudah pasti berhubungan dengan senyuman. Hingga suatu ketika saya mengantarkan paman yang hendak pulang ke Jawa Tengah setelah semalam menginap di rumah. “Senyum aja sekarang itu kok perlu dirancang ya, ada desainernya, hehe…” celetuk sang paman tiba-tiba sambil nyengir, ketika mobil yang kami tumpangi melintas tepat di depan klinik praktik dokter gigi tersebut.

Mendengar itu, seketika saya menimpali, “Berarti senyumnya nggak tulus ya, Om? Pake didesain segala…”. Paman saya hanya terkekeh penuh arti mendengar tanggapan tersebut. Sejak pembicaraan singkat itu, saya jadi mulai menganggap bahwa pemilihan nama “smile designer” ini cukup luar biasa aktual jika dikaitkan dengan gambaran keadaan sosial masyarakat kita saat ini, di mana untuk tersenyum saja sampai perlu dirancang atau pun direkayasa.

Jika memang benar ada perancang khusus untuk tersenyum, apa memang sudah separah itu kah kondisi sosial masyarakat Indonesia? Sehingga untuk tersenyum saja perlu seorang perancang. Bukankah sebuah senyuman itu bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan tulus ikhlas? Seperti sabda Rasulullah SAW, ”Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah”. (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi).

Agak susah memang sekarang ini menemukan orang-orang yang saling tersenyum ikhlas di jalanan. Sebaliknya banyak wajah-wajah cemberut, ketakutan, dan kecemasan. Apalagi di tengah kemacetan jalan pagi hari, mereka takut terlambat sampai di kantor, ada yang cemas karena karirnya mulai digoyang pegawai baru, ada juga yang cemberut karena pasangannya terindikasi selingkuh. Senyuman rekayasa dapat kita temukan di wajah model iklan odol yang ada di billboard di pinggir jalan.

Lain lagi jika menjelang pemilu, kita justru banyak menemukan senyum penuh harap para calon legislatif (caleg) yang sedang blusukan memperkenalkan diri kepada konstituen agar nanti wajahnya dicoblos. Jika diperhatikan foto-foto para caleg yang terpampang, hampir semua menunjukkan wajah tersenyum agar terlihat ramah. Entah siapa desainer perekayasa dari semua senyuman itu, yang jelas para pemilih tentunya tidak mudah dirayu hanya dengan senyuman.

Jika memang benar ada yang namanya perancang senyuman, mereka juga akan banyak dicari saat semua tahapan Pemilu selesai. Bagi para caleg atau capres/cawapres yang kalah, tentunya akan sangat kecewa, perlu smile designer agar mereka segera dapat menghadapi masa depan dengan senyuman bahagia, bukan dengan senyum kecut. Sayangnya saya dulu hanya sempat jadi perancang grafis bukan perancang senyum, jadi nggak bisa ikutan merekayasa senyuman mereka. 🙂 [b\w]

90 Tahun Nelson Mandela Tetap Berbatik

Gambar

Siapa tak kenal Nelson Mandela, seorang pejuang hak azasi manusia dari Afrika Selatan yang juga tokoh anti apartheid paling terkenal di dunia. Menjadi presiden Afrika Selatan setelah 27 tahun dipenjara oleh rezim apartheid, tidak menjadikannya tamak untuk terus berkuasa, baginya menjabat presiden cukup satu periode saja.

Gambar

Begitulah Nelson Rolihlahla Mandela, seorang tokoh dunia yang sikapnya sangat bijak dan bersahaja. Pada tanggal 18 Juli 2008 ia genap berumur 90 tahun. Sebuah bonus umur luar biasa dari Yang Maha Kuasa. Usia senja tak membuatnya berhenti beraktivitas. Mandela masih banyak melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat untuk dunia, khususnya untuk Afrika.

Gambar
Dari sekian banyak aktivitasnya, yang menarik dari mantan Presiden Afsel ini adalah kegemarannya memakai baju batik dalam setiap kesempatan baik itu acara resmi maupun tidak resmi, atau ketika bertemu dengan para pemimpin dunia maupun ketika merayakan ultahnya ke-90 bersama anak-cucu.
Gambar
Sungguh sebuah ironi yang tampak nyata. Batik yang resmi menjadi kain nasional Indonesia malahan lebih banyak diperkenalkan ke seluruh dunia bukan oleh pemimpin negara asal batik tersebut. Baru-baru ini saja menjadi tren karena ketakutan kita atas ulah negara jiran yang akan mengajukan klaim atas batik. Baru-baru ini juga karena paranoid tersebut para pemimpin kita jadi rajin memakai batik di berbagai kesempatan acara resmi.
Gambar
Nelson Mandela telah mengenakan batik sejak dahulu. Ketika pak harto masih segar bugar memimpin negeri ini. Ketika kita belum disadarkan oleh kelakuan “tetangga” yang sering mengakui budaya kita jadi bagian daya tarik wisatanya. Karena kebiasaannya itu, bahkan patung lilinnya pun dipakaikan baju batik!
Gambar
Hingga kini pun entah mengapa, Yang Mulia Presiden Republik Indonesia masih saja bangga mengenakan setelan jas-dasi ala barat dalam berbagai acara resminya. Mudah-mudahan warga dunia tetap tahu bahwa batik itu asalnya dari Indonesia, bukan dari Afrika Selatan. Happy Birthday Grandpa Nelson!

* Tulisan ini dibuat karena ternyata tanggal ulang tahun eyang Nelson sama dengan ultah almarhum ayah (18 Juli) yang berpulang tepat 40 hari menjelang usianya yang ke 65 tahun [b\w].

(Tulisan di atas dibuat & diposting pada 19 Juli 2008 di benwal.multiply.com. Ketika diposting ulang, usia Nelson Mandela 95 tahun dan sedang dalam keadaan sakit)