Pengalaman Naik Bis Transportasi Umum Gratis di Bangkok

Kota Bangkok, secara umum suasananya (dan juga tampang penduduknya) hampir mirip Jakarta, atau mungkin juga versi metropolitannya Yogyakarta (karena sama-sama punya tulisan khas dan warganya sangat mencintai Raja/Sultan). Hanya saja dalam beberapa hal, Bangkok sedikit lebih bersih dibanding Jakarta/Yogya, warganya juga sedikit lebih tertib, dan anginnya sedikit lebih dingin di bulan Desember.

Moda angkutan umum di kota ini a.l.: MRT (Mass Rapid Transit), BTS (Bangkok mass Transit System), Airport Rail Link, kereta api, express boat di sungai Chao Phraya, taksi argo meter yang harganya tetap harus ditawar, bis-bis kota bernomor sesuai rute, dan yang paling terkenal adalah Tuk-tuk, yaitu kendaraan roda tiga yang lebih lega dibanding bajaj. Lalu jika kita melihat banyak pemotor pakai rompi warna terang oranye atau pink, mereka itu tukang ojek! Ternyata bukan cuma ada di Indonesia.

selfie sepatu sandal kami di tuk tuk bangkok

selfie sepatu sandal dulu di tuk tuk, tapi bukan tuk tuk ini yang bikin trauma

Ketika saya dan istri berkunjung ke sana akhir tahun 2014 lalu, kami sempat “dikadalin” oleh supir tuk-tuk yang membuat jadi agak trauma. Waktu itu kami meminta diantar untuk mencari makan malam sea food yang enak dan “murah meriah”, ternyata kami malah diantar menuju sebuah resto seafood yang katanya enak dan tidak mahal. Kenyataannya, kami harus membayar lebih dari 1 juta rupiah, jika dikurs dari baht, untuk makan malam berdua.

Dengan kejadian tersebut, otomatis kondisi finansial baht kami untuk jalan-jalan di hari terakhir besok langsung anjlok di titik terendah. Untungnya saya dan juga istri ternyata masih membawa simpanan uang rupiah yang rencananya akan dipakai ketika pulang sampai di tanah air, dan untungnya lagi, ada bank (Bangkok Bank) yang mau menerima rupiah kami untuk ditukar baht.

Keesokan harinya, kami memutuskan untuk mulai berhemat. Rencana tujuan hari itu adalah kuil Wat Pho dan Wat Arun yang saling berseberangan di masing-masing sisi sungai Chao Phraya. Dari tempat kami berdiri ketika itu di depan Siam Square yang masih sepi di pagi hari, kami sudah putuskan untuk naik bis agar hemat, sembari celingak-celinguk mencari informasi tentang rute bis yang agak susah dicari, dan pastinya juga susah dibaca jika sudah ditemukan.

Setelah bertanya-tanya, akhirnya seorang perempuan muda bertampang mahasiswa dengan ikhlas memberitahu kami nomor bis mana saja, itu pun setelah ia googling di smartphone-nya. Gadis itu menyebutkan dua nomor, dan kami naiki salah satunya, yaitu bis nomor 15. Sebuah bis tanpa AC dengan semua bangku menghadap depan 2 baris di sisi kiri dan 1 baris di sisi kanan sehingga menyisakan tempat yang lega di antara dua baris bangku.

ini nomor bis yg kami naiki, diambil dari bangkok.com

ini nomor bis yg kami naiki, diambil dari bangkok.com

Bis berjalan dengan kecepatan sedang, tak banyak penumpang pagi itu, mungkin jam-jam ramainya warga pergi kerja dan sekolah sudah lewat. Karena lengang, kami berdua bebas memilih posisi duduk, yaitu di bagian paling depan baris kiri yang menyediakan dua tempat duduk. Supir bis mengendarai kendaraannya sembari ngobrol ngalor-ngidul (sok tahu, kayak ngerti bahasa Thai aja, hehe..) dengan penumpang laki-laki yg duduk persis di belakangnya.

supir bis 15 yg tampak kelelahan terkulai di setirnya

supir bis 15 yg tampak kelelahan terkulai di setirnya

Namun di benak kami masih diselimuti pertanyaan, apakah benar bis ini menuju tempat tujuan? Berapa kami harus membayarnya? Bagaimana cara kami membayarnya? Seperti saat tiba di Don Mueang Airport, kami naik bis menuju pusat kota dan membayar ongkos di dalam bis lewat seorang kernet perempuan yang menggenggam kaleng berbentuk tabung lonjong berisi uang. Tapi untuk bis kali ini, sepertinya tidak ada kernetnya!

Awalnya kami mengira laki-laki yang mengobrol dengan supir bis itu adalah sang kernet, tapi sampai di sebuah halte ia tiba-tiba turun dari bis. Ternyata penumpang juga! Akhirnya kami beranikan diri untuk bertanya kepada seorang penumpang pria paruh baya yang belum lama naik dan berdiri di sebelah kami duduk., “Maaf sir, berapa baht kami harus bayar ongkos naik bis ini?”

selfie dulu di dalam bis 15

selfie dulu di dalam bis 15

Jawaban cukup mengejutkan dari pria berkacamata itu adalah bahwa ini adalah bis gratis! No fare, katanya. Setelah mengucap terima kasih, kami langsung saling berpandangan sambil senyum-senyum penuh arti. “Ternyata ada ya angkutan umum tanpa bayar di dunia ini?” mungkin begitu kalimat yang ada di pikiran masing-masing…

Meski masalah bayaran sudah selesai, saya masih dengan seksama melihat ke jalan sambil membuka Google Maps untuk mengetahui lewat mana saja rute bis nomor 15 ini. “Itu di depan ramai sekali seperti rombongan turis, jangan-jangan kita sudah sampai ya?” tiba-tiba istri berseru sambil menunjuk ke depan. Benar juga, bis ini berputar di sebuah lapangan seperti alun-alun, dan ternyata kami ada di depan Grand Palace, obyek wisata terkenal di Bangkok bekas istana raja Thailand.

nyangsang di Grand Palace

nyangsang di Grand Palace

Ketika bis berhenti di sebuah pemberhentian yang penuh dengan rombongan turis, yang sepertinya dari negara Cina, serta merta istri mengusulkan agar kita turun saja. Usulan itu langsung saya sambut dengan berdiri dan menggandeng tangannya untuk segera turun dari bis ‘no fare’ yang cukup nyaman tersebut, dan kami langsung berjalan mengikuti rombongan para turis menuju halaman Grand Palace.

antrean masuk Grand Palace

antrean masuk Grand Palace

Melihat antrean masuk ke bangunan utama Grand Palace yang membludak, kami memutuskan untuk tidak ikutan masuk dan tetap pada tujuan awal, salah satunya adalah Wat Pho. Kuil yang terkenal akan keberadaan patung raksasa Buddha terbaring, ternyata terletak di belakang Grand Palace, dan kami hanya perlu bejalan kaki saja untuk mencapainya.

untuk melihat Giant Buddha di Wat Pho musti buka alas kaki dan disediakan kantongnya

untuk melihat Giant Buddha di Wat Pho musti buka alas kaki dan disediakan kantongnya

kami dan giant Buddha di Wat Pho

kami dan giant Buddha di Wat Pho

Singkat cerita, setelah mengunjungi Wat Pho, kami sangat kelelahan, sehingga perlu asupan sedikit camilan dan minuman. Banyak jajanan unik di Bangkok, salah satunya adalah yang berjualan di depan kuil ini. Kami akhirnya mencoba sate kentang dan ceplok telor puyuh yang lucu. Kami terpaksa membatalkan rencana ke Wat Arun, mengingat waktu yang tidak cukup karena harus pulang malam ini, sementara hari sudah mulai menuju sore.

jajan kentang dan ceplok telor puyuh

jajan kentang dan ceplok telor puyuh

Berbekal pengalaman naik bis gratis ketika berangkat, kami mencoba pulang juga dengan bis, sukur-sukur kalo bisa dapat lagi yang gratis, hehe… Setelah beberapa kali bertanya, akhirnya kami memasuki bis yang dikerneti oleh ibu-ibu, sepertinya profesi kernet di Bangkok kebanyakan wanita (seperti bis yang mangkal di Don Mueang). Arah berjalannya bis ternyata tidak semakin mendekat ke tempat kami menginap di kawasan Ratchathewi ke arah timur, ini malahan melaju berlawanan ke arah barat!

Setelah bis sempat melintas jembatan menyeberang sungai Chao Phraya (arah barat), kami langsung berhenti di halte terdekat sebelum makin jauh. Setelah duduk sejenak di halte di sisi jalan menuju arah timur, kami lagi-lagi kebingungan mencari daftar nomor rute bis. Beberapa orang ditanya tidak dapat berbahasa Inggris, termasuk ada seorang gadis belia yang manis, bergaya seperti mahasiswi, yang ternyata malah makin membuat kami bingung karena dia menjawab dengan bahasa Thai, hehe…

Sebelum semakin bingung bin linglung dan matahari semakin ke barat, akhirnya kami memutuskan untuk menghentikan taksi, dan melaju meninggalkan halte tersebut. Sekalipun tarifnya lebih tinggi daripada bis, namun jika dikurs rupiah, naik taksi jatuhnya tidak juga terlalu mahal, apalagi argonya masih bisa ditawar.

di JPO di atas halte tempat kami nyasar

di JPO di atas halte tempat kami nyasar

Pilihan saat itu untuk naik taksi adalah keputusan tepat, karena dengan begitu kami masih punya sisa waktu untuk belanja oleh-oleh di pasar Pratunam, sebelum kembali ke hotel dan check-out mengejar pesawat jam delapan malam. Kebayang jika kami tadi naik bis gratis yang jalannya lambat, belum lagi kalau ternyata salah ambil rute.

Belakangan baru diketahui bahwa memang bis di Bangkok jarang direkomendasikan bagi para turis, khususnya untuk turis barat/bule. Bagi mereka yang perlu efisiensi waktu karena harus mencapai beberapa destinasi dalam sehari, tidak disarankan untuk menggunakan bis karena jalannya tidak terlalu cepat. Tapi bagi “turis” lepas dan santai seperti kami yang tanpa jadwal terencana, naik bis gratis sangatlah membantu, terutama ketika sudah mulai kehabisan ongkos, hehehe..

Soedjatmiko Darmoadmodjo (alm)

SDAdiPLN

Brigjen Pol. (purn) Drs. H. SOEDJATMIKO DARMOADMODJO
Lahir di Yogyakarta pada tanggal 18 Juli 1937, anak ke 3 (tiga) dari 5 (lima) bersaudara dan merupakan anak laki-laki satu-satunya dari pasangan bapak Djasmin Darmoadmodjo dan ibu Sujatmi Djasmin.  Ayah beliau adalah seorang pegawai di Djawatan Pegadaian, yang tugasnya selalu berpindah-pindah daerah meski pun masih di Jawa Tengah, itulah yang menyebabkan beliau lahir di Yogya, namun besar di kota Juwana, sebuah kota di pantai utara Jawa yang saat ini masuk ke dalam Kabupaten Pati.

Pak Jatmiko, begitu beliau biasa dipanggil, menikah dengan ibu Hawindati atau yang kini biasa dipanggil ibu Wien Soedjatmiko pada 19 April 1966. Hasil pernikahan dengan putri ke-2 bapak Siswodarsono itu beliau memiliki 2 (dua) anak yang kesemuanya laki-laki bernama Optolino Baskara dan Bene Waluyo yang kini memberi beliau 5 (lima) orang cucu. Namun sayangnya, almarhum Soedjatmiko hanya sempat menikmati menimang dua cucu laki-laki dari anak sulungnya, sementara tiga cucu berikutnya lahir di masa beliau telah berpulang.

Daftar Riwayat Hidup Alm. H. Soedjatmiko Darmoadmodjo (1937 – 2002)

PENDIDIKAN UMUM:

  • 1950           SD
  • 1953           SMP
  • 1956           SMA “B” Semarang
  • 1983           P4 BP7 Pusat, Jakarta
  • 1993           Pengembangan Manajemen Usaha, Jakarta
  • 1999           Pascasarjana (S.2) M.Sc – AWU, Jakarta
  • 2000           Pascasarjana (S.2) M.M. – STIE IPWI, Jakarta

PENDIDIKAN MILITER/ POLISI:

  • 1961           PRA PTIK/ SPN Sukabumi
  • 1963           Kawiryan-1/ BRIMOB-PPBM, Porong
  • 1965           PTIK/ Bakaloreat/ SmIK, Jakarta
  • 1967           Kawiryan-2/ MENPOR, Kelapa Dua, Bogor
  • 1970           PTIK-Doktoral, Jakarta
  • 1976           Sespimpol, Lembang
  • 1979           Sesko (Gab) ABRI, Bandung
  • 1980           Susgaryawan ABRI, Bandung
  • 1984           Lemhanas (KRA XVII), Jakarta
  • 1986           Tarpadnas, Hankam, Jakarta
  • 1987           Suscados Kewiraan Hankam, Jakarta
  • 1988           Tarwaskat Hankam, Jakarta
  • 1989           Tarwakapolda, Jakarta
  • 1991           Tarkomputer Polri, Jakarta

RIWAYAT KEPANGKATAN:

  • 01/02/1963              Letnan Dua Polisi
  • 01/02/1965              Letnan Satu Polisi
  • 1965                         AKP Lokal
  • 01/02/1968              Kapten Polisi
  • 1970                         Mayor Polisi
  • 01/02/1971              Mayor Polisi
  • 01/10/1976              Letnan Kolonel Polisi
  • 01/04/1981              Kolonel Polisi
  • 01/04/1991              Brigadir Jenderal Polisi
  • 01/08/1992              Purnawirawan

RIWAYAT JABATAN:

  • 14/05/1965              Kabag Ops Komres 1851, Bone, Sulawesi Selatan
  • 29/11/1965              Dan Res 1842 (1965-1967) Pinrang, Sulawesi Selatan
  • 1967-1970                Tugas belajar di PTIK, Jakarta
  • 10/06/1969              Kabag Minpers KP3 Tanjung Priok, Jakarta
  • 09/09/1970              Ka Sat Gas “A” Sub TPK Kaltim, Balikpapan
  • 01/10/1970              Kaset Komdak XIV Kaltim, Balikpapan
  • 01/11/1970               Sekretaris Koord Univ. Mulawarman, Balikpapan
  • 05/11/1970              Kasi Hukum Komdak XIV Kaltim, Balikpapan
  • 02/08/1971              Perwira Litbang Komdak XIV Kaltim, Balikpapan
  • 13/02/1973              Wakil Sekpri Kapolri, Mabak (Mabes Polri), Jakarta
  • 01/08/1979              Kabag Poldagri Babinkar ABRI, Jakarta
  • 01/01/1980              Lektor Muda di PTIK, Jakarta
  • 01/08/1982              Lektor di PTIK, Jakarta
  • 01/04/1983              Aspam Babinkar ABRI, Mabes ABRI, Jakarta
  • 02/06/1984              Staf Ahli Kapolri, Mabes Polri, Jakarta
  • 13/05/1985               Kasetum Polri, Mabes Polri, Jakarta
  • 04/01/1986              Lektor Kepala di PTIK, Jakarta
  • 01/02/1989              Waka Polda Sulutteng, Manado
  • 30/08/1989              Kapolda Sulutteng, Manado
  • 01/01/1991               Kapolda Sulselra, Ujung Pandang/Makassar
  • 01/04/1993              Komut PT Rimasa Brata Bhakti, Jakarta
  • 22/07/1993              Direktur Utama PT Brata Jaya Utama, Jakarta
  • 06/06/1995              Anggota Presidium Asperdia Hankam (1995-2000)
  • 01/06/1996              Wakil Ketua 1 Asperdia Hankam Unit Polri
  • 28/12/1998              Direktur PT Aran Juana Putra, Jakarta
  • 27/09/1999              Pjs Ketua Asperdia Hankam Unit Polri, Jakarta
  • 02/05/2000             Wakil Ketua Asperdia Hankam Unit Polri, Jakarta
  • 21/06/2000              Anggota Presidium Asperdia Hankam (2000-2005)

PENGHARGAAN/ TANDA JASA:

  • 26/06/1967              Satya Lencana Satya Dharma Trikora
  • 02/10/1967              Satya Lencana GOM IV
  • 11/06/1968              Satya Lencana Penegak
  • 01/07/1968              Satya Lencana Prasetya Pancawarsa
  • 17/09/1968              Satya Lencana Wira Dharma Dwikora
  • 30/09/1971              Satya Lencana karya Bhakti
  • 30/10/1972              Penghargaan dari Univ. Mulawarman (Jur. Sosiatri Fak. Sosopol)
  • 30/11/1972              Satya Lencana Jana Utama
  • Sept 1977                  Bintang Police Klas II Taiwan
  • 09/05/1978              Satya Lencana Kesetiaan 16 Tahun
  • 05/10/1985              Satya Lencana Kesetiaan 24 Tahun
  • 19/08/1986              Bintang Bhayangkara Nararya
  • 27/10/1986              Satya Lencana Dwidya Sistha
  • 10/11/1990               Medali Perjoangan Angkatan ‘45
  • 26/09/1994              Bintang Yudha Dharma Nararya
  • 23/08/1996              International Best Executive Award 96-97
  • 01/09/2000              Eksekutif Indonesia Berprestasi 2000 YNI

R I Z Q A

Seorang yang dikenal sebagai penulis (writer) itu, menurut saya, justru akan kesulitan untuk memberi nama bagi apa pun yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Tentunya tidak semua penulis begitu, tapi paling tidak ini terjadi pada diri saya, yang pernah berprofesi sebagai penulis naskah iklan (copywriter) selama lebih dari satu dasawarsa, meski hingga kini saya merasa belum pantas dibilang sebagai seorang penulis.

Contohnya ketika memberi nama perusahaan atau nama anak yang baru lahir, seorang penulis tentunya akan sangat hati-hati dalam memilih namanya. Ketika dapat nama yang bagus tapi sudah banyak dipakai orang alias pasaran, orang-orang akan bilang “Gimana sih penulis kok nggak kreatif, ngasih namanya pasaran…” hehe… Tapi ketika memberi nama yang unik, aneh atau nyeleneh, maka mereka akan bilang “Dasar penulis, ngasih nama kok begitu!”.

Pengalaman ‘memberi nama’ yang baru saja saya alami adalah ketika menyambut kelahiran anak kedua. Meskipun sebelumnya sudah pernah mengalami “ritual” pemberian nama untuk putra pertama, tetapi tetap saja untuk yang kedua ini terasa lebih “galau” dibanding sebelumnya. Apalagi ketika mengetahui amanah Allah (meminjam istilahnya mas Eko Eshape) kali ini adalah seorang putri. Entah kenapa saya merasa lebih sulit mencari nama untuk perempuan ketimbang laki-laki, mungkin karena saya laki-laki? Mungkin…

Alkisah… tibalah jua hari yang dinanti, yaitu pada tanggal 7 Maret 2013 lahir bayi perempuan mungil yang alhamdulillah sehat dan lengkap. Melalui operasi cesar yang sukses dilaksanakan oleh tim dr. Patut Ritongga di RS Hermina Bekasi Barat, siang itu tercatat sang putri memiliki berat lahir 3,2 kg dengan panjang 48 cm.

Mulailah sang ayah dari bayi cantik tersebut mengalami kegalauan dalam memberinya nama. Meski sang ibu sudah jauh-jauh hari menyebut nama Aisyah yang merupakan pendamping termuda Baginda Nabi. Namun saya merasa harus ada nama lain untuk melengkapinya. Semakin menemukan banyak nama semakin bingung memilihnya, hingga akhirnya terbersit nama Rizqa agar tidak jauh berbeda dengan nama panggilan kakaknya: Rizqu. Pasrah lah mau dibilang nggak kreatif atau males mencari, yang jelas nama itu ternyata disepakati juga oleh sang ibu. Jadilah anak kedua kami dipanggil Rizqa.

Gambar

Benanda Aisyarizqa Waluyo

BENANDA

terdiri dari Bene + Anggi + ananda – artinya “ananda/anak dari Bene & Anggi

AISYARIZQA

“Aisya” diambil dari nama istri Rasulallah (Aisyah binti Abu Bakar) yg sangat berperan besar dalam sejarah kerasulan beliau dan dikenal sebagai “ibu dari orang-orang mukmin”, jadi boleh dibilang Aisya/Aisyah adalah salah satu perempuan istimewa di dunia ini karena pernah mendampingi Rasulullah SAW. Kata ‘aisyah/aisya’ sendiri secara etimologi bahasa Arab memiliki arti ‘hidup dan sehat’.

“Rizqa” yang juga secara etimologi Arab berarti ‘anugrah’ atau kata lainnya adalah ‘rezeki’, juga merupakan kependekan dari kata ‘rizqullah’ yang artinya ‘rezeki dari Allah’.

Jadi secara keseluruhan, “Aisyarizqa” memiliki makna “perempuan istimewa yang hidup dan sehat yang merupakan rezeki dari Allah”.

WALUYO

Kata ini memang diambil dari nama ayahandanya Bene Waluyo. Namun lebih dari itu, kata ‘waluyo’ sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti ‘keselamatan’. Ini merupakan doa orang tua, tentunya juga kakek-neneknya serta kita semua, agar Benanda Aisyarizqa selalu diberi keselamatan, agar selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin.

“Rezeki dari Allah SWT bagi Bene & Anggi yaitu anak perempuan istimewa yang diberi kehidupan sehat dan selalu dalam lindungan & keselamatan dari-Nya”

R I Z Q U

Blog pertama saya sebenarnya bukanlah WordPress juga bukan pula Blogspot. Pertama kali saya bikin blog di situs multiply.com, yang sayangnya mulai 2013 ini situs tersebut sudah tidak lagi menyediakan fasilitas blogging, kini mereka hanya menyediakan tempat untuk berjualan online dan berganti nama domain jadi multiply.co.id. Bersamaan dengan berubahnya konsep online multiply, berarti hilang pula segala sesuatu yang kita unggah ke situs multiply yang lama. Untungnya beberapa postingan sudah sempat saya salin, termasuk postingan foto-foto tentang acara aqiqah anak saya yang pertama yang bernama ARYADARMA RIZQULLAH SOEDJATMIKO yang dipanggil RIZQU.

Rizqu yang terpaksa lahir melalui operasi caesar ini kelahirannya paling gampang diingat oleh saya pribadi yang sangat pelupa. Penandanya gampang saja, saya ingat sekali ketika momen menguburkan ari-ari yang sudah dimasukkan ke dalam kendil (semacam tempat kecil dari tanah liat) di halaman depan rumah pada sekitar jam 7 malam, terdengar suara takbir di mana-mana, pertanda bahwa besok adalah hari raya, dan saat itu adalah tepat bulan Dzulhijjah atau bulan haji, sehingga berarti esok hari adalah Hari Raya Haji/Qurban. Itu artinya secara penanggalan Hijriyah adalah tepat tanggal 9 Dzulhijjah 1430 H (26 November 2009) karena besoknya adalah Hari Raya Qurban 10 Dzulhijjah.

Tulisan ini selain sebagai pengganti postingan di blog sebelumnya (benwal.multiply.com) yang sudah raib, juga agar nama sang anak bisa tersimpan di jagat maya sehingga dapat memudahkan anak cucu cicit yang hendak mencari asal-usul dirinya, hehe… Karena nama adalah doa bagi penyandang nama tersebut, maka orang tua seharusnya tidak boleh sembarangan memberi nama anaknya. Lalu bagaimana dengan nama Rizqu, darimana asalnya? Berikut penjelasan singkatnya:

aqiqh-28

Aryadarma Rizqullah Soedjatmiko

ARYADARMA = seorang ksatria yang memiliki kebajikan (darma). Berawal dari ibunya Rizqu yang menyukai nama ‘Arya’ untuk diberikan kepada putranya, sedangkan kata ‘Darma’ dipilih juga karena mewakili nama nenek moyangnya: Darmoadmodjo. Jika disatukan akan bermakna tentang seorang Aryadarma yang merupakan ksatria pembela kebenaran, keadilan, dan kebajikan, yang selalu berbuat baik bagi kepentingan umat manusia. Nama ini mewakili latar belakang kebangsaannya, Indonesia (Jawa – Sunda)

RIZQULLAH = berasal dari bahasa Arab yang artinya ‘rezeki dari Allah’ karena memang keberadaan seorang Rizqu merupakan rezeki yang luar biasa bahkan setengah mukzizat dari Yang Maha Kuasa. Nama ini juga merupakan perwujudan dari rasa syukur kepada Sang Pemberi Hidup, dan agar Rizqu selalu ingat untuk setiap saat bersyukur kepada Allah SWT. Nama ini juga mewakili latar belakang agamanya, Islam.

SOEDJATMIKO = nama kakeknya yang menjadi nama keluarga dari ayahnya Rizqu sehingga otomatis akan melekat pada dirinya, selain sang ayah juga  ingin sekali memberi penghargaan dan kenangan akan ayahnya (kakeknya Rizqu). Selain mewakili latar belakang keluarga, nama ini konon dari bahasa Jawa kuno yang berarti ‘bagus’ atau ‘cakap’.

Secara keseluruhan ARYADARMA RIZQULLAH SOEDJATMIKO berarti: seorang ksatria cakap yang berjuang untuk kebajikan yang merupakan rezeki dari Allah SWT. Amiin.