Dicari, Perancang Senyuman!

Kebetulan di dekat tempat tinggal saya baru buka sebuah klinik dokter gigi yang menamakan dirinya “Smile Designer Dental Clinic”. Sebenarnya tidak terlalu istimewa, karena sekarang ini banyak klinik gigi atau pun praktik dokter yang di-branding seperti itu agar tidak “menyeramkan”. Saya juga belum pernah masuk ke dalamnya, karena memang belum punya masalah gigi, jika pun ada, saya sudah punya langganan dokter gigi, makin kecil kemungkinan saya berkunjung ke klinik tersebut.

Nama yang dipilih pun ketika itu masih saya anggap biasa, karena memang urusan gigi sudah pasti berhubungan dengan senyuman. Hingga suatu ketika saya mengantarkan paman yang hendak pulang ke Jawa Tengah setelah semalam menginap di rumah. “Senyum aja sekarang itu kok perlu dirancang ya, ada desainernya, hehe…” celetuk sang paman tiba-tiba sambil nyengir, ketika mobil yang kami tumpangi melintas tepat di depan klinik praktik dokter gigi tersebut.

Mendengar itu, seketika saya menimpali, “Berarti senyumnya nggak tulus ya, Om? Pake didesain segala…”. Paman saya hanya terkekeh penuh arti mendengar tanggapan tersebut. Sejak pembicaraan singkat itu, saya jadi mulai menganggap bahwa pemilihan nama “smile designer” ini cukup luar biasa aktual jika dikaitkan dengan gambaran keadaan sosial masyarakat kita saat ini, di mana untuk tersenyum saja sampai perlu dirancang atau pun direkayasa.

Jika memang benar ada perancang khusus untuk tersenyum, apa memang sudah separah itu kah kondisi sosial masyarakat Indonesia? Sehingga untuk tersenyum saja perlu seorang perancang. Bukankah sebuah senyuman itu bisa bernilai ibadah jika dilakukan dengan tulus ikhlas? Seperti sabda Rasulullah SAW, ”Tersenyum ketika bertemu dengan saudara kalian adalah termasuk ibadah”. (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi).

Agak susah memang sekarang ini menemukan orang-orang yang saling tersenyum ikhlas di jalanan. Sebaliknya banyak wajah-wajah cemberut, ketakutan, dan kecemasan. Apalagi di tengah kemacetan jalan pagi hari, mereka takut terlambat sampai di kantor, ada yang cemas karena karirnya mulai digoyang pegawai baru, ada juga yang cemberut karena pasangannya terindikasi selingkuh. Senyuman rekayasa dapat kita temukan di wajah model iklan odol yang ada di billboard di pinggir jalan.

Lain lagi jika menjelang pemilu, kita justru banyak menemukan senyum penuh harap para calon legislatif (caleg) yang sedang blusukan memperkenalkan diri kepada konstituen agar nanti wajahnya dicoblos. Jika diperhatikan foto-foto para caleg yang terpampang, hampir semua menunjukkan wajah tersenyum agar terlihat ramah. Entah siapa desainer perekayasa dari semua senyuman itu, yang jelas para pemilih tentunya tidak mudah dirayu hanya dengan senyuman.

Jika memang benar ada yang namanya perancang senyuman, mereka juga akan banyak dicari saat semua tahapan Pemilu selesai. Bagi para caleg atau capres/cawapres yang kalah, tentunya akan sangat kecewa, perlu smile designer agar mereka segera dapat menghadapi masa depan dengan senyuman bahagia, bukan dengan senyum kecut. Sayangnya saya dulu hanya sempat jadi perancang grafis bukan perancang senyum, jadi nggak bisa ikutan merekayasa senyuman mereka.🙂 [b\w]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s