R I Z Q A

Seorang yang dikenal sebagai penulis (writer) itu, menurut saya, justru akan kesulitan untuk memberi nama bagi apa pun yang berhubungan dengan dirinya sendiri. Tentunya tidak semua penulis begitu, tapi paling tidak ini terjadi pada diri saya, yang pernah berprofesi sebagai penulis naskah iklan (copywriter) selama lebih dari satu dasawarsa, meski hingga kini saya merasa belum pantas dibilang sebagai seorang penulis.

Contohnya ketika memberi nama perusahaan atau nama anak yang baru lahir, seorang penulis tentunya akan sangat hati-hati dalam memilih namanya. Ketika dapat nama yang bagus tapi sudah banyak dipakai orang alias pasaran, orang-orang akan bilang “Gimana sih penulis kok nggak kreatif, ngasih namanya pasaran…” hehe… Tapi ketika memberi nama yang unik, aneh atau nyeleneh, maka mereka akan bilang “Dasar penulis, ngasih nama kok begitu!”.

Pengalaman ‘memberi nama’ yang baru saja saya alami adalah ketika menyambut kelahiran anak kedua. Meskipun sebelumnya sudah pernah mengalami “ritual” pemberian nama untuk putra pertama, tetapi tetap saja untuk yang kedua ini terasa lebih “galau” dibanding sebelumnya. Apalagi ketika mengetahui amanah Allah (meminjam istilahnya mas Eko Eshape) kali ini adalah seorang putri. Entah kenapa saya merasa lebih sulit mencari nama untuk perempuan ketimbang laki-laki, mungkin karena saya laki-laki? Mungkin…

Alkisah… tibalah jua hari yang dinanti, yaitu pada tanggal 7 Maret 2013 lahir bayi perempuan mungil yang alhamdulillah sehat dan lengkap. Melalui operasi cesar yang sukses dilaksanakan oleh tim dr. Patut Ritongga di RS Hermina Bekasi Barat, siang itu tercatat sang putri memiliki berat lahir 3,2 kg dengan panjang 48 cm.

Mulailah sang ayah dari bayi cantik tersebut mengalami kegalauan dalam memberinya nama. Meski sang ibu sudah jauh-jauh hari menyebut nama Aisyah yang merupakan pendamping termuda Baginda Nabi. Namun saya merasa harus ada nama lain untuk melengkapinya. Semakin menemukan banyak nama semakin bingung memilihnya, hingga akhirnya terbersit nama Rizqa agar tidak jauh berbeda dengan nama panggilan kakaknya: Rizqu. Pasrah lah mau dibilang nggak kreatif atau males mencari, yang jelas nama itu ternyata disepakati juga oleh sang ibu. Jadilah anak kedua kami dipanggil Rizqa.

Gambar

Benanda Aisyarizqa Waluyo

BENANDA

terdiri dari Bene + Anggi + ananda – artinya “ananda/anak dari Bene & Anggi

AISYARIZQA

“Aisya” diambil dari nama istri Rasulallah (Aisyah binti Abu Bakar) yg sangat berperan besar dalam sejarah kerasulan beliau dan dikenal sebagai “ibu dari orang-orang mukmin”, jadi boleh dibilang Aisya/Aisyah adalah salah satu perempuan istimewa di dunia ini karena pernah mendampingi Rasulullah SAW. Kata ‘aisyah/aisya’ sendiri secara etimologi bahasa Arab memiliki arti ‘hidup dan sehat’.

“Rizqa” yang juga secara etimologi Arab berarti ‘anugrah’ atau kata lainnya adalah ‘rezeki’, juga merupakan kependekan dari kata ‘rizqullah’ yang artinya ‘rezeki dari Allah’.

Jadi secara keseluruhan, “Aisyarizqa” memiliki makna “perempuan istimewa yang hidup dan sehat yang merupakan rezeki dari Allah”.

WALUYO

Kata ini memang diambil dari nama ayahandanya Bene Waluyo. Namun lebih dari itu, kata ‘waluyo’ sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti ‘keselamatan’. Ini merupakan doa orang tua, tentunya juga kakek-neneknya serta kita semua, agar Benanda Aisyarizqa selalu diberi keselamatan, agar selalu dalam lindungan Allah SWT, aamiin.

“Rezeki dari Allah SWT bagi Bene & Anggi yaitu anak perempuan istimewa yang diberi kehidupan sehat dan selalu dalam lindungan & keselamatan dari-Nya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s